Referat: Gangguan Obsesif-Kompulsif (F42)

Mungkin tidak ada penyakit kejiwaan yang melewati evolusi yang mengagumkan dalam hal konseptualisasi selama periode perkembangannya, selain gangguan obsesif-kompulsif. Hanya dalam 30 tahun, perubahan persepsi dan upaya pengobatan begitu dramatis. Dalam hal ini, prosesnya sedang mengalami peningkatan menuju suatu model multidimensi dari gangguan obsesif-kompulsif ini. Pada awal abad ke-20, Freud menuliskan obsesi sebagai respon pertahanan psikologis tubuh pada impuls-impuls yang tak disadari. Freud juga menyebutkan peran mendasar dari pengalaman seksual masa kanak. Maka, penting untuk diketahui, model penyakit ini tidak sesederhana tampilan teorinya, dimana penjelasan penyakit harus disertai perkiraan terapi yang terkait.(1,2)

Pada dasarnya setiap orang pernah memiliki pemikiran yang negatif atau mengganggu. Seorang individu akan mudah memunculkan pemikiran-pemikiran yang negatif dan juga perilaku-perilaku yang kaku dan berulang ketika mereka mengalami distress. Hal yang membedakan dengan orang yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah bahwa orang-orang yang normal akan mampu menghentikan pemikiran-pemikiran negatif tersebut sehingga tidak sampai mengganggu dirinya; sedangkan penderita gangguan obsesif-kompulsif tidaklah demikian.(1,2)

Gangguan obsesif-kompulsif digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang berulang yang menghabiskan waktu atau menyebabkan distress dan hendaya yang bermakna.(3) Orang yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif tidak akan merasa-kan kenyamanan dan ketenangan dalam keseharian hidupnya. Kompulsi yang seringkali dilakukan sebagai jawaban dari pikiran obsesi biasanya akan muncul cukup sering sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari atau menimbulkan distress yang signifikan. Contoh kasus, seorang penderita gangguan ini bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek dan mengecek kembali pintu-pintu dan jendela sebelum meninggalkan rumah; itu pun masih menyisakan keraguan. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan keterlambatan, membuang-buang waktu dan mungkin sekali akan merugikan orang lain.(2) Individu dengan gangguan ini memiliki pengertian umum bahwa sesuatu yang mengerikan dapat terjadi jika ritual tertentu tidak dilakukan, dan kegagalan untuk melakukan ritual dapat menyebabkan kecemasan berat atau perasaan jengkel yang sangat tidak nyaman. Walaupun aksi kompulsif mempengaruhi usaha untuk menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan obsesinya, hal ini tidak selamanya berhasil. Tetapi, aksi kompulsif malah dapat meningkatkan kecemasan. Kecemasan juga meningkat ketika orang menahan kompulsinya.(2,4)

 

DEFINISI

Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan neuropsikiatrik dengan gambaran obsesi, kompulsi atau keduanya, yang menyusahkan (distressing), membuang waktu, dan pada hakekatnya, menyebabkan hendaya bermakna (impairing).(3,5)

Obsesi adalah pikiran-pikiran yang terus-menerus secara patologis, yang persisten, berulang dan mengganggu (intrusive), berupa bayangan (image), gagasan, preokupasi, ritual, atau impuls-impuls yang menimbulkan kecemasan dan di luar kemampuan individu untuk mengendalikannya.(2,3,4,6,7) Kompulsi adalah tindakan yang didorong oleh impuls yang tidak bisa ditolak, untuk melakukan tingkah laku tertentu secara berulang, disadari dan individu itu harus melakukannya, seperti menghitung, memeriksa dan menghindar.(2,3,6,7) Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan dengan obsesi namun tidak selalu berhasil meredakan ketegangan.(3)

 

EPIDEMIOLOGI

Dalam satu waktu, gangguan obsesif-kompulsif adalah kondisi yang jarang ditemukan. Walaupun penyakit ini telah diketahui sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, penyakit ini diyakini sebagai gangguan yang tidak biasa, jarang terlihat dan jarang pula terdiagnosis.(1)

Gangguan obsesif-kompulsif adalah penyakit jiwa keempat yang paling umum setelah fobia, gangguan terkait penyalahgunaan zat, dan gangguan depresi berat, dengan prevalensi sekitar 1 sampai 3%.(1,4,5,8) Beberapa penelitian mengestimasikan, gangguan ini sekitar 10% dari seluruh pasien di poliklinik psikiatri.(4) WHO telah mengidentifikasi gangguan obsesif-kompulsif sebagai penyakit nonfatal yang menjadi penyebab permasalahan global terkemuka..(5,12)

Pada orang dewasa, pria dan wanita memiliki kemungkinan yang sama untuk menderita gangguan ini, tetapi pada remaja, laki-laki lebih sering dibandingkan perempuan. Rata-rata onset umur adalah 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki onset yang sedikit lebih awal (rata-rata sekitar 19 tahun) daripada perempuan (rata-rata sekitar 22 tahun). Tapi, secara keseluruhan munculnya gejala dari dua pertiga penderita pada onset sebelum umur 25 tahun, dan kurang dari 15% setelah umur 35 tahun. Onset pada gangguan ini dapat terjadi pula pada anak-anak.(4)

Di Indonesia, prevalensinya sekitar 2-2,4%, dan sebagian besar gangguan dimulai pada saat remaja atau dewasa muda (umur 18-24 tahun), tetapi bisa terjadi pada masa kanak. Puncak usia dari permulaan serangan bagi laki-laki adalah 6-15 tahun, dan untuk perempuan adalah usia 20-29 tahun. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan sama.(3,6)

 

ETIOLOGI

Dalam banyak kesempatan, telah dilakukan investigasi yang mendalam untuk mengetahui etiologi dan patofisiologi dari gangguan obsesif kompulsif. Seiring dengan perkembangan pengetahuan, masih banyak hal yang harus dipelajari. Gangguan obsesif kompulsif sangat mungkin disebabkan oleh interaksi kompleks dari berbagai faktor dibanding faktor tunggal.(8) Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Faktor Biologis

1. Neurotransmitter(4,7)

  • Sistem Serotonergik: Terdapat hipotesis bahwa ada disregulasi serotonin yang terlibat dalam formasi gejala gangguan obsesif dan kompulsif. Data-data yang ada menunjukkan bahwa obat-obat serotonergik lebih efektif daripada obat yang mempengaruhi sistem neurotransmitter secara keseluruhan, tetapi peran serotonin sendiri masih belum pasti sebagai penyebab gangguan obsesif kompulsif.
  • Sistem Noradrenergik: Sekarang ini, masih kurang bukti yang menunjukkan bahwa disfungsi sistem noradrenergik sebagai penyebab gangguan obsesif kompulsif. Tetapi peran clonidine sebagai obat yang menurunkan jumlah norepinefrin yang keluar dari nervus presinaptik terminalis, menunjukkan perbaikan terhadap gejala-gejala gangguan ini.
  • Neuroimunologik: Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara infeksi streptokokus dan gangguan obsesif kompulsif. Infeksi streptokokus grup A-hemolitikus dapat menyebabkan demam rematik dan kira-kira 10-30% pasien menimbulkan Sydenham’s Chorea dan menunjukkan gejala gangguan obsesif-kompulsif.

2. Studi pencitraan otak (Brain-Imaging Studies)(4,5,8)

Studi neuroimaging pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif menghasilkan kumpulan data yang melibatkan fungsi neurosirkuit terkait antara korteks orbitofrontal, caudatus dan thalamus. PET-Scan menunjukkan peningkatan aktivitas metabolisme dan aliran darah pada lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya caudatus), dan cingulum pada pasien dengan gangguan obsesif- kompulsif. Sedangkan data dari CT-Scan dan MRI menemukan caudatus yang mengecil dikedua hemisfer.

3. Genetik(4,7,8)

Beberapa pendekatan digunakan untuk mengevaluasi peran hereditas dalam gangguan obsesif-kompulsif. Hasilnya, terdapat hubungan dalam pengekspresian gangguan ini pada orang kembar. Pendekatan kedua dilakukan investigasi pada anggota keluarga dari pasien gangguan obsesif-kompulsif, dan menemukan hasil bermakna terhadap variasi kondisi gangguan terkait obsesif-kompulsif, seperti gangguan kecemasan menyeluruh, tic disorders, gangguan pencitraan tubuh (body dysmorphic disorder), hipokondriasis, gangguan makan, dan gangguan kebiasaan seperti sering menggigit jari.

4. Data biologis lain(4,5)

Studi elektrofisiologi, sleep electroencephalogram, dan studi neuroendokrin menunjukkan adanya hubungan antara gangguan depresif dan obsesif-kompulsif. Terdapat peningkatan insidens keabnormalan EEG yang terjadi pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Sleep EEG menunjukkan abnormalitas yang sama antara gangguan depresif, seperti penurunan rapid-eye movement yang laten juga terjadi pada gangguan obsesif kompulsif.

 

  1. Faktor Perilaku(4,8)

Menurut teori-teori pembelajaran, obsesi ditandai dengan stimulus yang terkondisi. Stimulus netral dapat menjadi terhubung dengan ketakutan dan kecemasan. Sedangkan, kompulsi ditegakkan dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang membuat aksi tertentu untuk menurunkan kecemasan yang terkait dengan pikiran obsesif, maka orang tersebut membangun strategi aktif untuk menghindari perilaku tersebut dalam hal ini kompulsi atau perilaku ritualistik untuk mengontrol kecemasan.

 

  1. Faktor Psikososial(4)

Faktor personal: Gangguan obsesif kompulsif berbeda dengan gangguan kepribadian tipe obsesif-kompulsif. Pada gangguan kepribadian tipe obsesif kompulsif, pasien lebih fokus pada detail-detail tertentu, perfeksionis, dan hal-hal terkait kepribadian lainnya. Banyak pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif, tidak memiliki gejala premorbid obsesif-kompulsif ataupun sifat kepribadian yang cukup untuk perkembangan gangguan ini. Hanya sekitar 15-35% pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif terkait dengan gejala premorbid dan sifat kepribadian obsesional.

Faktor psikodinamik: Banyak pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif menolak terapi seperti SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors) dan terapi perilaku. Walaupun gejala-gejala gangguan ini lebih terkait secara biologis, tetapi faktor psikodinamik mungkin terkait pada hal-hal tersebut. Contoh, pasien laki-laki yang tinggal serumah dengan ibu yang mengurusnya, mungkin secara tidak sadar menahan perilaku obsesif-kompulsifnya untuk menjaga perhatian ibunya.

 

PATOGENESIS(3)

Lebih dari 50% pasien dengan gangguan obsesif kompulsif gejala awalnya muncul mendadak. Permulaan gangguan terjadi setelah adanya peristiwa stressfull, seperti kehamilan, masalah seksual, dan kematian keluarga. Seringkali pasien merahasiakan gejala sehingga terlambat berobat. Perjalan penyakit bervariasi, sering berlangsung panjang, beberapa pasien malah ada yang berfluktuasi sementara sebagian lain menetap/terus menerus ada.

Kira-kira 20-30% pasien mengalami perbaikan gejala yang bermakna, sementara 40-50% perbaikan yang sedang, sedangkan sisanya gejala menetap atau memburuk. Seperti dari gangguan obsesif-kompulsif disertai gangguan depresi dan semua pasien dengan gangguan ini memiliki risiko bunuh diri.

 

MANIFESTASI KLINIK(3,4)

Pada umumnya obsesi dan kompulsi mempunyai gambaran tertentu seperti:

  1. Adanya ide atau impuls yang terus menerus menekan kedalam kesadaran individu
  2. Perasaan cemas/takut akan ide atau impuls yang aneh
  3. Obsesi dan kompulsi egoalien
  4. Individu yang menderita obsesi dan kompulsi merasa adanya keinginan kuat untuk melawan

 

Ada 4 pola gejala utama gangguan obsesi kompulsi, yaitu:

  1. Kontaminasi: Pola yang paling sering adalah obsesi tentang kontaminasi, yang diikuti oleh perilaku mencuci dan membersihkan atau menghindari obyek yang dicurigai terkontaminasi.
  1. Sikap ragu-ragu yang patologik: Pola kedua yang sering terjadi adalah obsesi tentang ragu-ragu yang diikuti dengan perilaku kompulsi mengecek/memeriksa. Tema obsesi tentang situasi berbahaya atau kekerasan (seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu rumah).
  1. Pikiran yang intrusif: Pola yang jarang adalah pikiran yang intrusif tidak disertai kompulsi, biasanya pikiran berulang tentang seksual atau tindakan agresif.
  1. Simetri: Obsesi yang temanya kebutuhan untuk simetri, ketepatan sehingga bertindak lamban, misalnya makan bisa memerlukan waktu berjam-jam atau mencukur kumis dan janggut. Pola yang lain: obsesi bertemakan keagamaan, trikotilomania dan menggigit-gigit jari.

 

DIAGNOSIS

Gangguan obsesif kompulsif sering salah terdiagnosis sebagai anxietas atau depresi, dan gejala dan kondisi lain malah salah terdiagnosis sebagai gangguan obsesif kompulsif. Pasien yang memenuhi kriteria gangguan obsesif kompulsif harus diperiksa untuk menunjukkan bahwa keyakinan obsesifnya itu akurat.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, fifth Edition (DSM-V), kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif adalah sebagai berikut.(5,8)

  1. Adanya obsesi, kompulsi atau keduanya; gejala obsesi ditandai dengan (1) dan (2):
  2. Pikiran, keinginan, dan gambaran yang persisten dan rekuren yang dialami, dalam waktu tertentu, gangguan ini sangat instrusif dan tidak diinginkan, dan dapat menyebabkan individu tersebut mengalami kecemasan dan penderitaan.
  3. Individu yang mencoba untuk mengabaikan atau menekan pikiran, keinginan dan gambaran tersebut, atau menetralkannya dengan beberapa pikiran dan aksi lain (dengan melakukan kompulsi).

Sedangkan, gejala kompulsi ditandai dengan (1) dan (2):

  1. Perilaku repetitif (contoh: mencuci tangan, menata sesuatu, mengecek sesuatu) atau aksi mental (contoh: berdoa, menghitung, mengulang kata) yang membuat individu tersebut harus melakukan obsesinya atau menurut ke peraturan yang harus dia terapkan.
  2. Perilaku atau aksi mental dilakukan bertujuan untuk mencegah atau menurunkan cemas atau penderitaan, atau mencegah kejadian menyeramkan; bagaimanapun juga, perilaku dan aksi mental ini dilakukan tidak dengan cara yang realistis dengan apa yang mereka telah rencanakan untuk menetralisasikan atau mencegahnya, atau sangat berlebihan.
  3. Gejala obsesi dan kompulsi sangat membuang-buang waktu (contoh: memakan waktu lebih dari 1 jam/hari) atau menyebabkan distress klinis atau gangguan sosial ditempat kerjanya, atau area-area lain.
  4. Gejala obsesif-kompulsif tidak diakibatkan oleh afek fisiologis (contoh: drug abuse, obat-obatan) atau kondisi medis lain.
  5. Gangguan ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai ganggaun mental lain (contoh: cemas berlebihan seperti pada gangguan cemas menyeluruh; preokupasi dengan penampilan, seperti pada body dysmorphic disorder; mencabut rambut seperti pada trikotilomania; skin-picking seperti dalam ekskoriasi; stereotipik seperti dalam gangguan pergerakan stereotipik; perilaku makan khusus seperti dalam gangguan makan; preokupasi akan sesuatu seperti dalam substance-related dan gangguan adiktif; dorongan dan fantasi seks seperti dalam gangguan parafilik; impuls yang disruptif seperti dalam ganggauan konduksi impuls; perenungan rasa bersalah seperti dalam gangguan depresi berat; thought insertion atau delusi persepsi dalam skizofrenia dan gangguan psikotik; atau perilaku repetitif dalam gangguan autisme.

Penetapan (spesifiers) perjalanan penyakit (tidak dibutuhkan sebagai kriteria diagnosis):

  1. Insight spesifiers: individu dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki berbagai level wawasan (insight), seperti kemampuan untuk menyadari bahwa keyakinan mereka itu benar-benar atau mungkin saja salah. Poorer insight terjadi pada individu yang sangat percaya bahwa keyakinan dan perilaku mereka adalah bukan suatu masalah, walaupun sudah dipatahkan, akan menjadi hasil buruk yang berkepanjangan (poor long-term outcome).
  2. Tic-related spesifiers: ketika individu memiliki tic disorder atau riwayat memilikinya, specifiers merefleksikan kemungkinan kondisi yang berbeda dalam hal perjalanan penyakit dan transmisi ke keluarga (familial transmission).

Sedangkan, menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ-III) yang digunakan di Indonesia, pedoman diagnosis gangguan obsesif kompulsif adalah sebagai berikut.(8)

 

F42 GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

  • Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut.
  • Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau menganggu aktivitas penderita.
  • Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
    • Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri;
    • Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan penderita;
    • Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekadar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas);
    • Gagasan, bayangan pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).
  • Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif dengan depresi. Penderita gangguan obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama periode depresifnya.

Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala derpresif umumnya dibarengi secara parallel dengan perubahan gejala obsesif. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu.

Diagnosis gangguan obsesif-kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif-kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak ada yang menonjol, maka lebih baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.

  • Gejala obsesif “sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organik, harus dianggap bagian dari gangguan tersebut.

 

F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan

  • Keadaan ini dapat berupa: gagasan, bayangan pikiran, atau impuls (dorongan perbuatan), yang sifatnya menganggu (egoalien);
  • Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress).

 

F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif [Obsessional Rituals]

  • Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan: kebersihan (khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi berbahaya tidak terjadi, atau masalah kerapihan dan keteraturan.

Hal tersebut dilator-belakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut.

  • Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai berjam-jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan.

 

F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif

  • Kebanyakan dari penderita menunjukkan pikiran obsesif serta tindakan kompulsif. Diagnosis ini digunakan bilamana kedua hal tersebut sama-sama menonjol, dan umumnya memang demikian.
  • Apabila salah satu memang lebih jelas dominan, sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. Hal ini berkaitan dengan respons yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompulsif lebih responsif terhadap terapi perilaku.

 

F42.8 Gangguan Obsesif-Kompulsif Lainnya

F42.9 Gangguan Obsesif-Kompulsif YTT

 

DIAGNOSA BANDING

Terdapat beberapa diagnosis banding yang dapat diperhatikan terhadap gangguan obsesif-kompulsif, yaitu:

  1. Gangguan Tourette(3,11)

Gangguan obsesif-kompulsif sangat erat terkait dengan sindrom Tourette, sebagai dua kondisi yang sering terjadi bersamaan, dalam satu individu yang sama dan dapat terkait keluarga. Sekitar 90% pasien dengan gangguan Tourette terdapat gejala kompulsif, dan sebanyak dua pertiga cocok terhadap kriteria diagnosis gangguan obsesif kompulsif. Tourette’s syndrome ini digambarkan sebagai penyakit dengan onset sejak kanak, dikarakteristikkan oleh kedutan vokal dan motorik yang kronik (durasi >1 tahun). Selain, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan Tourette juga sering terkait dengan attention deficit-hiperactivity disorder (ADHD).

  1. Kondisi medis lainnya(3,4)

Beberapa gangguan medis primer dapat menimbulkan sindrom hubungan kesamaan yang mencolok dengan gangguan obsesif-kompulsif. Konsep gangguan obsesif-kompulsif saat ini, digambarkan sebagai gangguan ganglia basalis dari kesamaan fenomena antara gangguan obsesif kompulsif yang idiopatik dan gangguan obsessive-compulsive-like yang juga terkait penyakit ganglia basalis seperti: Sydenham’s Chorea dan Penyakit Huntington. Tanda-tanda neurologis dari ganglia basalis yang patologis harus diperiksa untuk mempertimbangkan diagnosis gangguan obsesif-kompulsif pada pasien yang menunjukkan gejala selama penanganan psikiatrik. Harus diperhatikan pula bahwa gangguan obsesif-kompulsif seringkali timbul pada usia sebelum 30 tahun, dan onset baru dari gangguan ini pada pasien yang lebih tua, harus dipertanyakan mengenai potensi neurologis terhadap gangguan ini.

 

PENATALAKSANAAN

Mengingat faktor utama penyebab dari gangguan obsesif-kompulsif adalah faktor biologis, maka pengobatan yang disarankan adalah pemberian farmakoterapi dan terapi perilaku.(3,8) Secara umum, tujuan penanganan adalah untuk menurunkan frekuensi dan intensitas gejala sebanyak mungkin, dan untuk meminimalisir gejala lain yang dapat ditimbulkannya. Harus diketahui bahwa beberapa pasien dapat sembuh total. Tetapi, gangguan obsesif-kompulsif ini tetap harus diperhatikan sebagai penyakit kronis. Gejala seringkali memburuk selama periode stress psikososial. Bahkan dengan pengobatan sekalipun, gejala dapat bertambah buruk pada kasus-kasus yang jarang ditemui. Penelitian-penelitian terus berlanjut seperti dalam bidang neurosurgical, terutama pendekatan yang kurang invasif seperti penggunaan gamma knife dan mungkin transmagnetic stimulation, dapat menawarkan opsi lain pada penanganan gangguan obsesif kompulsif di masa depan.(8) Adapun, penatalaksanaan yang digunakan sekarang adalah sebagai berikut.

1. Psikofarmaka

Kebanyakan obat yang digunakan dalam mengatasi gangguan obsesif-kompulsif adalah yang mempengaruhi sistem serotonergik. Mekanisme kerjanya sebagai serotonin reuptake blockers atau menghambat reuptake neurotransmitter serotonin, sehingga hipersensitivitas serotonergic receptors tersebut dapat berkurang.(13)

2. Golongan Trisiklik: Clomipramine

Sampai saat ini, clomipramine masih merupakan obat yang paling efektif dari golongan trisiklik oleh karena paling bersifat serotonin selective dan masih dianggap sebagai first-line drug dalam pengobatan gangguan obsesif-kompulsif. Dengan demikian juga menjadi pilihan utama pada terapi gangguan depresi yang menunjukkan aspek-aspek obsesif. Mulai dengan dosis rendah untuk penyesuaian efek samping.

Clomipramine dimulai dengan 25-50 mg/hari (dosis tunggal pada malam hari), lalu dinaikkan secara bertahap dengan penambahan 25 mg/hari sampai tercapai dosis efektif untuk mengendalikan sindrom obsesif kompulsifnya (biasanya sampai 200-300 mg/hari) ini sangat tergantung pada toleransi penderita terhadap efek samping obat.(13) Penelitian terbaru menunjukkan IV clomipramine lebih menjanjikan karena memiliki onst kerja lebih cepat dan lebih kurangnya efek samping dibandingkan obat oral, dan lebih efektif pada pasien yang tidak berespon terhadap clomipramine oral.(8) Efek samping paling sering adalah mulut kering dan konstipasi.

Efek samping lain dari golongan trisiklik, dapat berupa:

  • Efek anti-histaminergik: sedasi, mengantuk, kewaspadaan berkurang, psikomotor menurun, kognitif menurun, dll
  • Efek anti-kolinergik: mulut kering, keluhan lambung, retensi urin, dysuria, penglihatan kabur, konstipasi, dll
  • Efek anti-adrenergik alfa: perubahan EKG, hipotensi ortostatik
  • Efek neurotoksis: tremor halus, kejang-epileptik, agitasi, insomnia

Meskipun respons terhadap pengobatan sudah dapat terlihat dalam 1-2 minggu, untuk dapat hasil yang memadai setidaknya diperlukan waktu 2-3 bulan dengan dosis pemeliharaan/maintenance. Dosis ini juga harus dinaikkan titrasinya setelah 2-3 minggu untuk menghindari adverse effect di gastrointestinal dan juga hipertensi ortostatik.(4) Dosis maintenance umumnya agak tinggi sekitar 100-200 mg/hari yang dapat bertahan lama sekitar 1-2 tahun, sambil dilakukan terapi perilaku atau psikoterapi lain. Pengurangan dosis harus dilakukan secara tapering off, dan batas lamanya pemberian obat umumnya diatas 6 bulan sampai tahunan, kemudia dihentikan secara bertahap bila kondisi pasien sudah memungkinkan.(13)

 

3. Golongan SSRI: Sertraline, Paroxetine, Flouvoxamine, Fluoxetine, dan Citalopram.

Bagi pasien yang sensitif terhadap golongan trisiklik dapat beralih ke golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors), dimana efek sampingnya relatif lebih ringan. Efek sampingnya seperti nausea dan sakit kepala. Dosis sertraline umumnya efektif pada 200 mg/hari, flouvoxamine pada 100-250 mg/hari, fluoxetine pada 20-80 mg/hari, paroxetine pada 40-60 mg/hari dan citalopram pada 40-60 mg/hari. Dosis pemeliharaan sertraline sekitar 100 mg/hari. Obat golongan SSRI dan juga trisiklik termasuk tidak berpotensi menimbulkan ketergantungan obat.(7,13)

Respons penderita gangguan obsesif-kompulsif terhadap farmakoterapi seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30-60%, dan kebanyakan masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya penderita sudah sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku.(13)

 

4. Psikoterapi

Banyak pasien gangguan obsesif-kompulsif yang resisten terhadap usaha pengobatan yang diberikan baik dengan obat maupun terapi perilaku. Walaupun gangguan obsesif-kompulsif dasarnya adalah biologis, namun gejala obsesif-kompulsifnya mungkin mempunyai makna psikologis penting yang membuat pasien menolak pengobatan. Eksplorasi psikodinamik terhadap resistensi pasien terhadap pengobatan sering memperbaiki kepatuhan pengobatan. Jenis psikoterapi yang diberikan dapat berupa psikoterapi suportif, terapi perilaku, dan terapi kognitif perilaku.(3)

Psikoterapi Suportif

Psikoterapi suportif dapat digunakan khususnya pada pasien yang walaupun memiliki berbagai derajat keparahan, tetapi masih dapat bekerja dan mematuhi peraturan sosial. Secara bertahap dan kontak yang regular, dengan orang yang menarik, simpati, professional dan sangat memberi harapan, pasien dapat mengembalikan fungsi-fungsinya kembali, tanpa gejala-gejalanya membuatnya tidak mampu.(4)

Terapi Perilaku

Terapi perilaku memiliki efektivitas yang sama dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif, dan beberapa data menunjukkan manfaat lebih lama terasa dengan terapi perilaku. Prinsip pendekataan perilaku pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan (exposure) dan respon pencegahan (response prevention). Desensitisasi, thought stopping, flooding, terapi implosi, dan kondisi aversi, juga digunakan dalam penanganan gangguan ini. Pada terapi perilaku, pasien benar-benar mengalami peningkatan perbaikan.(4,5)

Terapi Kognitif Perilaku

Mendasarkan pada perspektif kognitif dan perilaku, teknik yang umumnya digunakan untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif adalah exposure with response prevention. Pasien dihadapkan pada situasi dimana pasien memiliki keyakinan untuk harus melakukan tingkah laku ritual yang biasa dilakukannya, namun mereka cegah untuk tidak melakukan ritual itu. Jika pasien dapat mencegah untuk tidak melakukan ritual tersebut dan ternyata sesuatu yang mengerikannya tidak terjadi, hal ini dapat membantu dalam mengubah keyakinan individu tersebut akan tingkah laku ritual.(2,7,10)

Pedoman dari American Psychiatric Association(6) merekomendasikan terapi perilaku berupa exposure with response prevention sebagai monoterapi pada pasien yang termotivasi untuk sembuh dan kooperatif dalam terapi, yang tidak memiliki gejala depresi berat, atau pasien yang tidak ingin makan obat. Pada kasus dengan pasien yang sangat ketakutan terhadap terapi perilaku, obat SSRI harus diberikan terlebih dahulu, dan kemudian terapi perilaku mulai diberikan setelah obat telah mengurangi gejala, hanya jika pasien setuju dengan terapi perilaku ini. Penggunaan SSRI sebagai monoterapi direkomendasikan untuk pasien yang tidak bisa menjalani terapi exposure, pasien yang telah menerima obat SSRI sebelumnya, atau pasien yang lebih memilih pengobatan daripada psikoterapi.

 

PROGNOSIS(4)

Lebih dari setengah jumlah pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki onset gejala yang mendadak. Onset gejala dari 50-70% pasien, terjadi setelah kejadian yang membuat stress berat, seperti kehamilan, masalah seksual, atau kematian. Karena banyak orang yang mengalami gejala-gejala gangguan ini lebih merahasiakannya, mereka menunda 5-10 tahun untuk datang ke psikiater, walaupun penundaannya mungkin lebih cepat seiring dengan peningkatan kewaspadaan terhadap gangguan ini. Perjalanan penyakit biasanya lama tapi bervariasi, beberap pasien mengalami perjalanan yang fluktuatif, sedangkan yang lainnya hanya konstan saja.

Sekitar 20-30% pasien dapat mengalami perbaikan gejala yang signifikan, 40-50% memiliki perbaikan yang cukup saja, dan sisanya 20-40% pasien tetap dengan gejalanya, bahkan dapat bertambah buruk. Sekitar 1/3 pasien dengan gangguan obsesif kompulsif dapat disertai gejala depresi berat, dan bunuh diri menjadi risiko dari semua pasien gangguan ini.

Prognosis yang buruk diindikasikan pada pasien dengan gejala kompulsi yang menetap, onset awal masa kanak, kompulsi yang bizarre, perlunya hospitalisasi, adanya gejala depresi berat, keyakinan delusional, adanya ide-ide yang meluap-luap, dan adanya gangguan kepribadian (khususnya gangguan kepribadian skizotipal).

Prognosis yang baik diindikasikan oleh mulainya hubungan sosial yang baik dalam pekerjaannya, adanya precipitating event, dan gejala yang mulai natural. Isi pikiran obsessional tidak dapat dihubungkan dengan prognosis.

 

KESIMPULAN

Gangguan obsesif-kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesi atau kompulsi, dimana membutuhkan waktu banyak (lebih dari 1 jam sehari) dan menyebabkan distress. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut-turut. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif yaitu faktor biologis seperti neurotransmitter, pencitraan otak, genetika; faktor perilaku dan faktor psikososial. Ada beberapa terapi yang dapat digunakan untuk penatalaksanaan gangguan obsesif kompulsif seperti psikofarmaka dan psikoterapi khususnya terapi perilaku. Prognosis pasien dinyatakan tidak dapat sembuh sempurna. Dengan pengobatan hanya dapat memberikan pengurangan gejala.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hudak R, Dougherty DD. Clinical Obsessive-Compusive Disorders in Adults and Children: Cambridge University Press; 2011.
  2. Suryaningrum C. Cognitive Behavior Therapy (CBT) Untuk Mengatasi Gangguan Obsesif Kompulsif. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan 2013;1(1):1-11.
  3. Departemen Psikiatri FKUI. Buku Ajar PSIKIATRI. 2nd ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2013.
  4. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th ed: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.
  5. Grant JE. Obsessive-Compulsive Disorders. The New England Journal of Medicine 2014;371(7):646-53.
  6. Dwisaptani R, Hartanti, Nanik. Dinamika Penderita Gangguan Obsesif-Kompulsif. Surabaya: Universitas Surabaya; 2010.
  7. Parmet, Sharon. Obsessive-Compulsive Disorders. The Journal of the American Medical Association 2011;305(18):1926.
  8. Kay J, Tasman A. Essentials of Psychiatry. Chicester: John Wiley & Sons; 2006.
  9. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5: Bagian IKJ FK Unika Atmajaya; 2013.
  10. Cougle JR, Lee H-J. Pathological and Non-Pathological Features of Obsessive-Compulsive Disorders: Revisiting Basic Assumptions of Cognitive Models. Journal of Obsessive-Compulsive and Related Disorders 2013;3:12-20.
  11. Kurlan, Roger. Tourette’s Syndrome. The New England Journal of Medicine 2010;363(24):2332-8.
  12. Nestadt G, Grados M, Samuels JF. Genetics of OCD. J of Psychiatr Clin North Am 2010;33(2):141-58.
  13. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik: Bagian IKJ FK Unika Atmajaya; 2007.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s